Tulisan ini ditujukan kepada para ateis secara khusus, juga kaum materialis umumnya.
Pada tulisan ini, saya akan menjawab beberapa syubhat yang seringkali diajukan oleh tokoh ateis kepada teisme. Dan saya bisa pastikan, rata-rata paham ateisme itu timbul dari ideologi materialisme. Oleh karena itu, tidak sah rasanya jika membahas ateisme tanpa menyenggol materialisme.
Materialisme yang memandang bahwa hanya materi/fisik satu-satunya realitas yang bisa dibuktikan secara empiris, merupakan dasar epistemologis bagi paham ateisme itu sendiri. Karena Tuhan pada umumnya dianggap entitas non-materi (metafisika), kaum materialis (khususnya materialisme dialektis; penganut Marxis) secara otomatis menolak adanya Tuhan.
Melalui teori kausalitas (sebab-akibat), para tokoh ateis berasumsi bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta memiliki sebab yang hanya terbatas pada materi/fisik dan alamiah, dimana suatu peristiwa (sebab) menimbulkan peristiwa lain (akibat). Contohnya dalam menentukan asal usul alam semesta yang bermula dari big bang (ledakan dahsyat) dan teori evolusi biologis (seleksi alam dan variasi genetik) sebagai asal usul kehidupan secara alamiah. Maka, untuk menciptakan alam semesta ini mereka tidak membutuhkan perancang yang disebut dengan Tuhan.
Padahal, dengan konsep sebab-akibat justru Tuhan itu seharusnya ada. Jika sebab-akibat tak berpangkal dan tak berujung (para teolog Muslim menyebutnya tasalsul) dalam penciptaan alam ataupun asal usul kehidupan, maka tatanan alam seakan-akan absurd. Sebab, dari rangkaian sebab-akibat harus ada penyebab pertama yang tidak menjadi akibat. Dan sebab pertama itu yang dikenal dengan Tuhan pemegang otoritas tertinggi secara absolut atas alam. Penalaran ini dalam ilmu filsafat disebut logika atau argumen kosmologis; menyimpulkan eksistensi Tuhan sebagai sebab pertama dan tidak disebabkan, berdasarkan bukti empiris berupa adanya alam semesta yang terbatas dan memiliki permulaan.
5 abad silam, Imam as-Sanusi (teolog Muslim perumus sifat 20) telah merumuskan eksistensi Tuhan dalam kitabnya Ummul Barahin. Bukti paling konkrit dan rasional tentang eksistensi Tuhan adalah alam semesta ini. Tatanan alam yang begitu rumit namun tetap terstruktur dan kompleks menuntut adanya entitas Tuhan.
Selain itu, ateis juga sering menanyakan problem of evil (masalah kejahatan). Mereka familiar dengan tiga gugatan yang dirancang untuk mengelabuhi lawan mereka sehingga orang yang ditanya berada dalam dilema. Tiga pertanyaan yang dikenal sebagai trilemma epicurus itu adalah: 1. Jika Tuhan tidak bisa mencegah kejahatan, maka Dia tidak Mahakuasa (omnipotent), 2. Jika Tuhan tidak mau mencegah kejahatan, maka Dia tidak Maha Baik (omnibenevolent), dan 3. Jika Tuhan mampu dan mau mencegah kejahatan, mengapa kejahatan masih ada?
Kalau bisa saya katakan trilemma epicurus itu merupakan logika falasi (logical fallacy) ateisme untuk membuat lawan bingung dan dilema. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini seolah-olah terdengar meyakinkan, tapi sebenarnya tidak masuk akal dan menyesatkan.
Kenapa saya katakan trilemma epicurus itu tidak masuk akal dan menyesatkan!? Pertama, Tuhan memiliki otoritas tertinggi dalam tatanan alam. Jika Tuhan dibilang tidak mampu atau kuasa jelas bukan Tuhan namanya. Pertanyaan semacam itu secara tidak langsung telah membuktikan kualitas penanya itu sendiri. Orang yang tidak tahu kemampuan Tuhan, disebabkan tidak mengetahui esensi dari Tuhan itu sendiri. Dan nyatanya mereka memang tidak tahu akan hal itu. Jika para ateis mengetahui esensi dari Tuhan, maka semua ateisme pasti akan menjadi teisme.
Kedua, standard kejahatan. Jika Tuhan membiarkan adanya kejahatan di muka bumi, maka Dia bukan Maha Pengasih. Sekilas tampak logis. Sebelum mempertanyakan Tuhan itu Maha Pengasih atau Mahakejam, maka kita harus tahu apa yang menjadi standar kejahatan, dan siapa yang menjadi tolok ukur penentu sebuah kejahatan.
Kita ambil contoh kecil; hubungan seksual yang dibungkus dengan pernikahan dengan yang tidak (zina), secara lahiriyah itu sama, sama-sama berhubungan intim. Tapi secara aturan syariat maupun negara (yang mengikuti koredor agama) nikah itu dianggap baik dan dinilai ibadah, sementara zina termasuk tindakan asusila dan dicap sebagai prilaku kriminal. Dan yang memberi patokan baik dan jahat itulah Tuhan. Karena Tuhan yang membuat aturan dan yang menentukan baik dan jahat, maka Tuhan tidak bisa dicap jahat. Sebab, aturan yang diperuntukkan makhluk tidak berlaku bagi Sang Kholik (Tuhan).
Walhasil jika seorang ateis menanyakan eksistensi Tuhan ataupun kualitas-Nya, maka itu hanya desahan-desahan mereka disebabkan ketidaktahuan akan esensi dari Tuhan. Dan pertanyaan-pertanyaan semacam ini merupakan serangkaian logika falasi (logical fallacy) ateisme untuk mengelabuhi orang yang berpaham teisme sehingga membuatnya merasa dilema.