Senin, 09 Maret 2026

21 Ramadhan Mengenang Wafatnya Dua Tokoh Karismatik

Ω…ΩˆΨͺُ Ψ§Ω„ΨΉΨ§Ω„ِΩ… Ω…ΩˆΨͺُ Ψ§Ω„ΨΉΨ§Ω„َΩ…

"Wafatnya orang alim adalah matinya alam (ilmu/peradaban)." Begitulah pepatah mengatakan. 

Di dunia ini tidak ada yang kekal, segala yang hidup akan kembali kepada-Nya. Tak ada satupun yang bisa menebak kapan Malaikat Maut datang untuk menjemput ajal. Dan tidak ada satupun yang mampu mengulur waktu dari jadwal yang telah ditentukan. Tanggal 21 Ramadhan adalah saksi atas fawatnya dua ulama karismatik yang sangat berdedikasi dalam mendidik anak-anak bangsa dan menyebarkan ilmu di seluruh bumi Nusantara. Nama KH. Cholil Nawawi (Sidogiri) dan KH. Abdul Karim (Lirboyo) akan selalu dikenang sepanjang masa. Warisannya; Pesantren Sidogiri dan Lirboyo adalah saksi bisu akan kegigihan beliau berdua dalam menyebarkan ilmu. Dalam kiprahnya sebagai pemegang tongkat kepengasuhan, beliau berdua telah banyak berkontribusi dalam mencetak ulama-ulama besar di penjuru Nusantara.

Di akhir zaman, satu-persatu ilmu akan diangkat oleh Allah, tidak dengan mencabutnya dari hamba-Nya seketika, akan tetapi dengan mencabut para ulama sang pemilik ilmu. Ketika semua ulama telah tiada, maka tiba saatnya hari kehancuran; kemaksiatan merajalela, kriminal menjadi tontonan sehari-hari, dan banyaknya penguasa yang zalim. Kematian ulama tidak hanya membawa duka di kalangan masyarakat, alam pun ikut berduka. Begitulah yang terjadi saat wafatnya KH. Cholil Nawawie dan KH. Abdul Karim. Ribuan pelayat dari berbagai wilayah, pelosok, semuanya ikut berkabung, menyaksikan kematian kedua ulama karismatik itu. 

  • Wafatnya KH. Muhammad Cholil Nawawie

Malam Senin Pon 21 Ramadhan tahun 1396 H atau 05 September 1977 M, Hadratus Syekh KH. Muhammad Cholil Nawawie Sidogiri wafat.

Saat itu beliau sedang melaksanakan salat tarawih berjamaah seperti malam-malam biasanya. Sampai di pertengahan salat tarawih, kiyai pergi ke jeding guna mengambil wudhu'. Namun, ketika akan keluar beliau terjatuh tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Untunglah tak lama berselang khadamnya datang menolong. Si khadam pun segera memeluk beliau sembari membawanya ke dalem, tapi tak selang lama beliau menghembuskan nafas terakhirnya. 

Beliau dimakamkan di belakang Masjid Jamik Sidogiri bersama para pendahulunya. Hingga kini makamnya tidak pernah sepi dari para penziarah, baik dari kalangan santri, alumni, maupun masyarakat umum yang memiliki ikatan batin dengan beliau. 

  • Wafatnya KH. Abdul Karim (Mbah Manab) 

Menjelang wafatnya, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim yang dikenal dengan Mbah Manab itu, menyampaikan nasihat terakhirnya. 

"Mengko yen aku wis mati, aku tulung didungakno, yo! (nanti kalau aku sudah meninggal, tolong aku didoakan, ya!)."

Susana menjadi hening. Sanak famili yang sedari tadi menunggui Mbah Karim, diam seribu bahasa, menyimak pesan terakhir kiyai kharismatik itu. Tak selang lama, Mbah Karim kembali melanjutkan wasiat terakhirnya yang justru di luar dugaan. 

"Aku tulung dungakno ben diakoni santrine Mbah Kholil (aku tolong didoakan supaya diakui santrinya Syaikhona Kholil Bangkalan)."

Tepat pada hari Senin 21 Ramadhan 1374 H atau tahun 1954 M, KH. Abdul Karim wafat, beliau dikebumikan di belakang Masjid Lawang Songo, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Tanggal 21 Ramadhan 1447 H telah memasuki peringatan haul KH. Cholil Nawawie ke-50 dan haul KH. Abdul Karim ke-72. Semoga kita semua bisa diakui menjadi santrinya fid dunya wal wal akhirat. Untuk mereka berdua, al-Fatihah......