Jumat, 02 Oktober 2026

Meluruskan Sejarah G30S/PKI

61 tahun lalu, tepatnya pada malam tanggal 30 September hingga 1 Oktober dini hari pada tahun 1965, terjadi peristiwa yang menggemparkan Indonesia, negara yang baru transisi dari era kolonialisme menjadi negara yang berdaulat dan merdeka 20 tahun sebelumnya. Peristiwa itu dikenal dengan G30S/PKI.

Kebanyakan dari kita mungkin hanya tahu bahwa PKI itu otak di balik gerakan 30 September, pembantaian para jenderal, penculikan, dan sebagainya. Padahal, sejarah PKI tidak sesederhana itu. PKI bukan sekedar soal penculikan atau pembunuhan keenam jenderal. Sejarah PKI begitu kompleks, paham komunis tidak seburuk yang diceritakan oleh Orde Baru. PKI juga soal perjuangan kelas bawah, kaum proletar yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka, kaum buruh yang selalu mendapatkan tindakan diskriminatif dari orang-orang kapitalis. 

Lantas apakah PKI tidak bersalah atas tragedi G30S? PKI tetap bersalah, tapi posisi mereka lebih tepatnya sebagai BONEKA POLITIK yang dikendalikan dan terjebak dalam skenario. Sementara sutradara dan dalangnya tidak pernah dinyatakan bersalah, bahkan sering dipuji-puji dan dianggap seorang pahlawan bangsa. Sungguh ironi! Lebih membagongkan lagi, periode “Pembersihan PKI” yang tak kalah kejam tak pernah tercatat dalam buku sejarah, siapapun yang bersuara ketika itu akan dibungkam oleh kaum elit, yang ada hanya propaganda anti-komunis. Para sejarawan dan lembaga HAM memperkirakan antara 500.000 hingga lebih dari 1 juta orang tewas akibat kekerasan horizontal maupun eksekusi militer pada waktu itu. Dan tidak semua korbannya adalah anggota PKI, melainkan juga dari simpatisan, orang-orang yang dituduh terafiliasi dengan PKI, keluarga mereka, serta kelompok masyarakat lain yang terjebak dalam konflik politik. Apakah sebanding jika nyawa segelintir orang dibayar dengan ratusan ribu nyawa orang yang tak bersalah!?

Pembersihan tidak hanya berhenti pada fisik, melainkan berlanjut secara diskriminasi administratif melalui kebijakan Orde Baru. Para penyintas dan keturunan mereka diberi label ET (Eks-Tapol) pada KTP mereka, dilarang menjadi pegawai negeri (PNS), anggota militer, guru, atau profesi strategis lainnya. Belum lagi film propaganda Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI yang menjadi tontonan wajib nasional di era itu. Sejak usia dini, lapisan masyarakat telah disuguhi doktrin anti-komunis. Narasi ateisme dan anti-pancasila juga kerap kali dilontarkan kepada penyandang paham komunis, untuk membangkitkan kemarahan emosional masyarakat yang religius.

Transformasi Orde Lama ke Orde Baru mengubah total haluan politik Indonesia, dari yang semula cenderung berhaluan kiri (sosialis/anti-imperialis) menjadi berhaluan kanan (kapitalis/pro-Barat). Di era Orde Lama, Presiden Soekarno menerapkan sistem Demokrasi Terpimpin dengan menyeimbangkan tiga kekuatan besar (Nasionalis, Agama, Komunis) yang dikenal sebagai NASAKOM. Presiden Soeharto kemudian banting setir dengan mengubah pahamnya menjadi “Nasionalis + Agama vs Komunis”. Sehingga, perjuangan melawan komunisme dimodifikasi menjadi sebuah perlawanan terhadap kelompok “anti-nasionalisme” dan “anti-religiusisme”. Otak kita terlalu banyak disusupi narasi era Orde Baru yang mengklaim PKI sebagai dalang tunggal atas gerakan 30 September. Namun, dokumen-dokumen sejarah dan riset para sejarawan seperti W.F. Wertheim, Benedict Anderson bersama Ruth McVey melalui riset terkenal Cornell Paper, dan Peter Dale Scott telah membantah konspirasi itu.

Beruntung kita masih memiliki presiden seperti Almarhum Gus Dur yang bisa menyudahi hantu sejarah PKI yang menghantui pikiran masyarakat kita selama bertahun-tahun. Gus Dur secara lantang menyuarakan, “Mengucilkan PKI itu bukan tugas negara.” Ia juga menegaskan bahwa asumsi masyarakat yang menganggap ratusan ribu orang yang dibantai dan ditangkap sebagai tahanan komunis adalah keliru. Menurutnya, banyak dari mereka yang menjadi korban tanpa pernah diadili, dan belum tentu mereka memahami ideologi komunis atau terlibat dalam gerakan politik tersebut.

Ketika banyak pemimpin yang tidak tahu-menahu atau bahkan menutup-nutupi masalah ini, Gus Dur datang layaknya ksatria yang dengan gagah melontarkan ucapan historis: “Saya minta maaf dan kamu juga minta maaf”. Ia adalah satu-satunya presiden dan pimpinan ormas Islam (Ketua Umum PBNU) yang berani secara terang-terangan meminta maaf atas pembunuhan massal terhadap orang-orang tak bersalah yang dituduh komunis. Pahlawan sejati bukan ia yang mengaku menang di atas kebohongan dan penderitaan orang lain, tapi ia yang berani mengakui kekalahan atas dasar kebenaran. Dan Gus Dur membuktikan hal itu.

Sekali lagi penulis tegaskan bahwa PKI tetap bersalah, mereka yang terlibat langsung dalam aksi pembunuhan keenam jenderal, wajib diadili seadil-adilnya. Tetapi ingat, kita juga harus bersikap objektif, dengan tidak menggeneralisasikan stigma jahat kepada kaum yang berpaham komunisme. 

REFERENSI:



Selasa, 25 Agustus 2026

Merayakan Maulid Tidak Butuh Dalil!

"Apa dalil merayakan maulid?"

Setiap kali memasuki bulan maulid, Rabiul Awal, pertanyaan semacam ini mulai banyak bermunculan, entah itu di medsos ataupun secara langsung. Ada yang memang tidak tahu dalilnya, ada pula yang tujuannya ingkar dan berupaya memecah belah umat. 

Pertanyaan serupa juga pernah dilontarkan kepada Sayyid Muhammad al-Maliki, salah satu ulama terkemuka di tanah haram. Dan jawabannya bikin semua orang diam membungkam pada saat itu. Ia tidak menjawab dengan dalil: hadis atau ayat Al-Qur'an. Jawabannya sangat pendek tapi memiliki makna yang luas, "Merayakan maulid tidak butuh dalil!" Jawaban yang singkat, padat. 

Sekilas jawabannya terasa ambigu dan sangat musykil, tapi kalau kita rujuk ke kitab masterpiece-nya beliau yang berjudul Mafahim Yajibu an Tushahhaha (pemahaman-pemahaman yang harus diluruskan), maka kita akan paham maksud jawaban itu. 

Merayakan maulid Nabi, begitu juga peringatan hari besar Islam (PHBI) lainnya, hanyalah sebuah tradisi/adat istiadat, bukanlah ibadah/pengabdian. Sama seperti kita merayakan HUT RI, hari lahirnya Pancasila, hari guru, dan lain sebagainya, itu semua tidak membutuhkan dalil dan bukan termasuk sebuah ritual. Selama semua itu tidak bertentangan dengan koredor syariat, maka tidak ada masalah. 

Di Indonesia sendiri tradisi maulid dijalankan dengan penuh penghormatan, mengungkapkan rasa syukur dengan banyak bersedekah, membaca maulid yang berisi biografi dan perjalanan hidup Nabi Muhammad, dll. Semua itu adalah hal yang baik dan dianjurkan oleh syariat. 

Jika ada kelompok yang masih mempermasalahkan perayaan maulid dengan dalih "semua bid'ah itu sesat", itu membuktikan bahwa mereka telah gagal memahami esensi dari peringatan maulid. Hadis ΩƒُΩ„ُّ Ψ¨ِΨ―ْΨΉَΨ©ٍ ΨΆَΩ„َΨ§Ω„َΨ©ٌ وَΩƒُΩ„ُّ ΨΆَΩ„َΨ§Ω„َΨ©ٌ فِي Ψ§Ω„Ω†َّΨ§Ψ±ِ dan Ω…َΩ†ْ Ψ£َΨ­ْΨ―َΨ«َ فِي Ψ£َΩ…ْΨ±ِΩ†َΨ§ Ω…َΨ§ Ω„َيْΨ³َ فِΩŠΩ‡ِ فَΩ‡ُوَ Ψ±َΨ―ٌّ sangat erat kaitannya dengan peribadatan. Mengada-ngada dalam hal itu dianggap bid'ah yang sesat apabila bertentangan dengan Nash maupun ijma'. Sementara perayaan maulid hanyalah tradisi sebagaimana kita juga merayakan hari ulang tahun kita.

Merayakan maulid tidak butuh dalil! Dalam kitabnya, Sayyid Muhammad al-Maliki menampilkan satu gubahan syi'ir: 

وَΩ„َيْΨ³َ يَΨ΅ِΨ­ُّ فِي Ψ§Ω„ْΨ£َΨ°ْΩ‡َΨ§Ω†ِ Ψ΄َيْΨ‘ٌ • Ψ₯ِΨ°َΨ§ Ψ§Ψ­ْΨͺَΨ§Ψ¬َ Ψ§Ω„Ω†َّΩ‡َΨ§Ψ±ُ Ψ₯ِΩ„َΩ‰ Ψ―َΩ„ِΩŠΩ„ِ

"Tidak ada satu pun yang dianggap benar (masuk akal) di dalam pikiran, jika siang hari saja masih membutuhkan dalil (bukti)."

Senin, 06 Juli 2026

Ustadzah AI: Layak Diikuti atau Jangan!?

Kalian harus baca ini, agar tidak salah paham! 

Nia Hajar, atau yang disebut-sebut sebagai ustadzah AI. Akhir-akhir ini videonya sering berseliweran di berbagai platform media sosial khususnya tiktok, dan saat ini followernya telah mencapai satu juta lebih. Namun, dari banyaknya video yang beredar, postingannya banyak mendapatkan kecaman dari beberapa tokoh publik dan para ustadz/dai yang aktif dalam bersosial media, bahkan tak sedikit orang yang menghujatnya. 

Dari beberapa postingannya, yang disorot ketika ia menyampaikan suatu ayat yang terpotong-potong dan cara menerjemahkannya yang banyak keliru. Kadang ia juga menyampaikan hukum, kisah-kisah inspiratif, dan kata-kata yang mengandung motivasi. 

Entah apa yang membuat pengikutnya begitu banyak, apa karena parasnya yang cantik jelita, lesung pipinya, atau memang karena penyampaiannya yang mudah dicerna oleh kalangan awam. 

Tetapi, ternyata apa yang ia sampaikan ada benarnya juga, dan tidak semuanya salah! 

Apakah layak ucapan ustadzah AI ini untuk diikuti? 

Dalam hal ini kita harus mengambil langkah yang bijak, sebijak-bijaknya. Sebagaimana kecerdasan buatan yang lain, AI (Artificial Intelligence) semacam ini juga tidak bisa luput dari salah, kita harus selektif dalam memilih, mana yang bisa diikuti dan tidak. 

Dalam mengambil hukum dan semua yang berkaitan dengan usuluddin (pokok-pokok agama) harus berdasarkan data yang jelas dan disampaikan oleh orang-orang yang kapasitas ilmunya tidak diragukan atau kredible. Hanya berbekal hafalan yang kuat dan bisa menampilkan referensi lengkap seperti halnya AI tidak bisa dibuat acuan dalam pijakan hukum. Begitu juga Al-Quran dan Hadist, tidak sembarangan orang bisa memahami dan mencernanya mentah-mentah, tanpa landasan ilmu alat yang matang hanya akan menjerumuskannya ke jurang kesesatan. Itu sebabnya Rasulullah mewanti-wanti agar tidak menafsirkan Al-Quran sesuka hatinya:

Ω…َΩ†ْ Ω‚َΨ§Ω„َ فِي Ψ§Ω„ْΩ‚ُΨ±ْΨ’Ω†ِ Ψ¨ِΨ±َΨ£ْيِΩ‡ِ فَΩ„ْيَΨͺَΨ¨َوَّΨ£ْ Ω…َΩ‚ْΨΉَΨ―َΩ‡ُ Ω…ِΩ†ْ Ψ§Ω„Ω†َّΨ§Ψ±ِ

"Barangsiapa berkata (menafsirkan) tentang al-Quran sesuai dengan pendapatnya sendiri (tanpa ilmu), maka bersiaplah untuk menempati neraka." (HR. At-Tirmidzi: 2875)

Namun, jika yang ia sampaikan sebatas kisah-kisah inspiratif atau kata mutiara dan motivasi, maka tidak ada masalah dalam mengikutinya, itu semua tidak membutuhkan dalil dan tidak perlu meninjau dari mulut siapa ucapan itu keluar. Kendati demikan, tetap harus sesuai dengan koredor syariat; tidak mengandung hoax, manipulatif, provokatif, dan semacamnya. 

Ingat, jangan mudah menghakimi orang lain apalagi melontarkan kata-kata kotor hanya karena ia keliru, komentar/kritik boleh tapi harus sesuai etika. Jangankan AI, kita pun tidak luput dari salah.