Senin, 30 Maret 2026

Manusia Tidak Diciptakan untuk Beribadah❗

Mungkin sudah lumrah kita dengar para penceramah atau dai yang berstatmen bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Padahal itu kesalahan besar, apalagi dengan mendistorsi Surah adz-Dzariyat atat 56 yang berbunyi:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْن

"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."

Kalau kita terjemahkan secara tekstual seperti di atas, sepintas pernyataan itu bisa dibenarkan, sesuai dengan kaedah nahwu, setiap nafi (ingkar) yang diiringi ististna' (pengecualian) sama dengan istbat (penetapan). Kemudian lumrahnya faedah huruf "lam" yang terletak pada lafadz "liya'budun" dimaknai sebagai ta'lil (alasan). Maka mafhumnya; Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Ku. Namun, mafhum ini jelas keliru dan menyimpang dari makna aslinya. Buktinya banyak orang yang tidak beribadah atau bahkan bermaksiat kepada-Nya, dan hal itu tidak merusak citranya sebagai Tuhan Sang Pencipta. 

Lalu bagaimana tafsiran yang benar?

Sebenarnya, kesalahan vital dalam menafsiri ayat di atas terletak pada faedah huruf "lam". Dalam Tafsir Showi disebutkan bahwa lam pada lafadz "liya'budun" bermakna ghoyah (puncak) atau akibat bukan ta'lil. Dengan begitu, maka tafsiran yang tepat adalah "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali puncak/akibatnya mereka beribadah kepada-Ku." Ibadah itu sebuah keharusan bagi jin dan manusia bukan alasan atau tujuan Allah menciptakan mereka! 

Sebagai argumen pendukung saya akan ajak Imam as-Sanusi ikut membantah kekeliruan pandangan di muka. Menurut as-Sanusi dalam Ummul Barahin, tujuan adalah penggerak untuk mewujudkan sebuah tindakan atau menghukuminya. Dan hal itu mustahil bagi Allah. Sebab, jika Allah memiliki tujuan seperti dalam pemikiran aliran Mu'tazilah, maka ada dua kemungkinan yang menjadi objek sararannya; maslahat yang kembali pada dzat-Nya atau makhluk-Nya. 

Pertama, Allah itu tidak butuh pada apapun. Jika Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, maka itu sangat kontras dengan sifat wajib-Nya; qiyamuhu binafsihi. Sementara konsepsi kedua mengacu pada teori teologis Mu'tazilah; mura'ah ash-shalah wa al al-ashlah, bahwa Allah wajib memberikan hal baik (shalah) dan lebih baik (ashlah) kepada hamba-Nya. 

Maka dari itu, stop menormalisasikan kekeliruan tafsir Surah adz-Dzaiyat atat 56! Agar tidak termasuk golongan:

 مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

"Barangsiapa berkata (menafsirkan) tentang al-Quran sesuai dengan pendapatnya sendiri (tanpa ilmu), maka bersiaplah untuk menempati neraka." (HR. At-Tirmidzi: 2875) 

Sekali lagi, ibadah itu sebuah keharusan bagi jin dan manusia bukan alasan atau tujuan Allah menciptakan mereka! 

Senin, 09 Maret 2026

21 Ramadhan Mengenang Wafatnya Dua Tokoh Karismatik

موتُ العالِم موتُ العالَم

"Wafatnya orang alim adalah matinya alam (ilmu/peradaban)." Begitulah pepatah mengatakan. 

Di dunia ini tidak ada yang kekal, segala yang hidup akan kembali kepada-Nya. Tak ada satupun yang bisa menebak kapan Malaikat Maut datang untuk menjemput ajal. Dan tidak ada satupun yang mampu mengulur waktu dari jadwal yang telah ditentukan. Tanggal 21 Ramadhan adalah saksi atas fawatnya dua ulama karismatik yang sangat berdedikasi dalam mendidik anak-anak bangsa dan menyebarkan ilmu di seluruh bumi Nusantara. Nama KH. Cholil Nawawi (Sidogiri) dan KH. Abdul Karim (Lirboyo) akan selalu dikenang sepanjang masa. Warisannya; Pesantren Sidogiri dan Lirboyo adalah saksi bisu akan kegigihan beliau berdua dalam menyebarkan ilmu. Dalam kiprahnya sebagai pemegang tongkat kepengasuhan, beliau berdua telah banyak berkontribusi dalam mencetak ulama-ulama besar di penjuru Nusantara.

Di akhir zaman, satu-persatu ilmu akan diangkat oleh Allah, tidak dengan mencabutnya dari hamba-Nya seketika, akan tetapi dengan mencabut para ulama sang pemilik ilmu. Ketika semua ulama telah tiada, maka tiba saatnya hari kehancuran; kemaksiatan merajalela, kriminal menjadi tontonan sehari-hari, dan banyaknya penguasa yang zalim. Kematian ulama tidak hanya membawa duka di kalangan masyarakat, alam pun ikut berduka. Begitulah yang terjadi saat wafatnya KH. Cholil Nawawie dan KH. Abdul Karim. Ribuan pelayat dari berbagai wilayah, pelosok, semuanya ikut berkabung, menyaksikan kematian kedua ulama karismatik itu. 

  • Wafatnya KH. Muhammad Cholil Nawawie

Malam Senin Pon 21 Ramadhan tahun 1396 H atau 05 September 1977 M, Hadratus Syekh KH. Muhammad Cholil Nawawie Sidogiri wafat.

Saat itu beliau sedang melaksanakan salat tarawih berjamaah seperti malam-malam biasanya. Sampai di pertengahan salat tarawih, kiyai pergi ke jeding guna mengambil wudhu'. Namun, ketika akan keluar beliau terjatuh tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Untunglah tak lama berselang khadamnya datang menolong. Si khadam pun segera memeluk beliau sembari membawanya ke dalem, tapi tak selang lama beliau menghembuskan nafas terakhirnya. 

Beliau dimakamkan di belakang Masjid Jamik Sidogiri bersama para pendahulunya. Hingga kini makamnya tidak pernah sepi dari para penziarah, baik dari kalangan santri, alumni, maupun masyarakat umum yang memiliki ikatan batin dengan beliau. 

  • Wafatnya KH. Abdul Karim (Mbah Manab) 

Menjelang wafatnya, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim yang dikenal dengan Mbah Manab itu, menyampaikan nasihat terakhirnya. 

"Mengko yen aku wis mati, aku tulung didungakno, yo! (nanti kalau aku sudah meninggal, tolong aku didoakan, ya!)."

Susana menjadi hening. Sanak famili yang sedari tadi menunggui Mbah Karim, diam seribu bahasa, menyimak pesan terakhir kiyai kharismatik itu. Tak selang lama, Mbah Karim kembali melanjutkan wasiat terakhirnya yang justru di luar dugaan. 

"Aku tulung dungakno ben diakoni santrine Mbah Kholil (aku tolong didoakan supaya diakui santrinya Syaikhona Kholil Bangkalan)."

Tepat pada hari Senin 21 Ramadhan 1374 H atau tahun 1954 M, KH. Abdul Karim wafat, beliau dikebumikan di belakang Masjid Lawang Songo, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Tanggal 21 Ramadhan 1447 H telah memasuki peringatan haul KH. Cholil Nawawie ke-50 dan haul KH. Abdul Karim ke-72. Semoga kita semua bisa diakui menjadi santrinya fid dunya wal wal akhirat. Untuk mereka berdua, al-Fatihah...... 

Senin, 02 Maret 2026

Dari Kekaisaran Persia hingga Revolusi Islam Iran


Sejak awal Maret 2026, konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah memasuki fase eskalasi militer terbuka yang memicu kekhawatiran global akan meletusnya Perang Dunia ke-3. Situasi semacam ini bisa dibilang sangat kritis karena melibatkan kekuatan nuklir dan aliansi militer yang luas.

Tapi banyak yang masih meragukan kekuatan negara ini (Iran); kok beraninya menantang negara super power AS? Sekuat apa sih pertahanan militernya? 

Ini yang tidak banyak orang tahu. Secara historis, peradaban Iran telah berdiri kokoh selama kurang lebih 30 hingga 31 abad silam (sekitar 3.000 tahun), jauh sebelum Christopher Columbus menemukan Benua Amerika dan mencuri tanah itu dari penduduk aslinya. Mulai dari Kekaisaran Persia, Dinasti Safawiyah, dan hingga kini Republik Iran, bangsa ini telah membuktikan identitasnya yang terus bertahan melintasi berbagai penaklukan. Bangsa Iran merupakan salah satu peradaban terpanjang dan paling berkelanjutan di dunia hingga saat ini.

Dan kali ini, penulis akan memaparkan secara singkat perjalanan dari peradaban Persia-Iran. Periodisasi utama sejarah Persia hingga Republik Islam Iran bisa digolongkan menjadi lima periode:

  • Persian Empire (Kekaisaran Persia):
Kekaisaran Persia dikenal sebagai salah satu bangsa adidaya pertama yang menyatukan peradaban-peradaban kuno termasuk Mesopotamia, Mesir, dan sebagian India. Pada milenium kedua, Bangsa Arya hijrah ke Iran dan mendirikan kekaisaran pertama; Kekaisaran Media (728 SM–550 SM), lalu disusul dengan Kekaisaran Akhemeniyah (648 SM–330 SM) yang didirikan oleh Koresh yang Agung. Kekaisaran Akhemeniyah menjadi kekaisaran pertama yang menyatukan dataran tinggi Iran, dan Koresh yang Agung menjadi kaisar pertama yang menyandang gelar Agung/Shah Iran. 

Setelah Kekaisaran Akhemeniyah runtuh sebab serangan Alexander the Great, wilayah Iran dikuasai oleh Kekaisaran Parthia (248 SM - 224 M) yang juga turut menaklukkan wilayah timur eskrim Turki pada awal abad ke-3 Masehi, dan juga Mesopotamia antara tahun 150 SM dan 224 M. Konflik antara Persia dan Romawi membuat Kekaisaran Parthia melemah, hingga akhirnya runtuh oleh kekaisaran yang dilindunginya yaitu Sassaniyah. Setelah Ardashir l naik tahta pada tahun 226 M, Kekaisaran Sassaniyah mulai membangun kembali ekonomi dan militer Persia. Wilayahnya meliputi kawasan Iran modern, Irak, Suriah, Pakistan, Asia Tengah dan wilayah Arab. Era Sassaniyah menjadikan Zoroastrianisme sebagai agama dominan dan di bawah kekaisarannya bangsa ini menyaksikan memuncaknya peradaban Persia, sampai akhirnya ditaklukkan oleh Islam pada tahun 651 M. 

  • Ekspansi Islam: 
Penaklukan Islam pada abad ke-7 membawa perubahan besar bagi bangsa Persia, di mana Islam menggantikan ajaran Zoroastrianisme dan mengubah wajah Timur Tengah selamanya. Namun, meskipun berada di bawah pemerintahan Islam, Persia tetap mempertahankan identitas budayanya yang unik. Pepatah terkenal mengatakan, "Bangsa Arab menaklukkan Persia secara militer, namun bangsa Persia menaklukkan Arab secara budaya."

Ekspansi Islam ke Persia dimulai setelah wafatnya Rasulullah, pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan memuncak pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Kemenangan Islam dalam perang Qodisiyah (636 M) dan Nahavand (642 M) menghancurkan kekuatan militer Kekaisaran Sassaniyah, dan kaisar terakhir Persia, Yazdegerd III, tewas dalam pelariannya pada tahun 651 M. 

Islamisasi di Persia berjalan dengan bertahan. Proses ini berlangsung selama berabad-abad melalui insentif pajak (jizyah) dan daya tarik ajaran Islam. Islam di Persia mengalami masa keemasannya semenjak era Dinasti Abbasiyah (750–1258 M). Ditandai dengan kemunculan ulama terkemuka dan cendekiawan Muslim seperti Ibnu Sina (Avicenna) di bidang medis, al-Khowarizmi di bidang matematika (Aljabar), Imam al-Ghazali dalam bidan teosofi dan filsafat, dan banyak lagi. 

  • Era Dinasti Safawi: 
Pada periode abad pertengahan (pasca runtuhnya Baghdad sampai era modern awal) kerajaan-kerajaan Islam didominasi oleh tiga kekuatan besar yang dijuluki sebagai "The Three Gunpowder Empires" (Tiga Imperium Mesiu); Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) di Turki, Dinasti Safawiyah di Iran, dan Kerajaan Mughal di India. 

Berdirinya Dinasti Safawi (1501-1722 M) merupakan periode krusial yang membentuk identitas bangsa Iran modern melalui penetapan Islam Syi'ah sebagai agama resmi negara. Dinasti ini bermula dari gerakan tarekat yang didirikan oleh tokoh sufi terkemuka, Safi ad-Din di Ardabil. Seiring dengan berjalannya waktu, gerakan tarekat ini menjadi gerakan militer-politik setelah Ismail I memproklamirkan diri sebagai Syah (raja) pertama pada tahun 1501 M usai menaklukkan Tabriz.

Puncak kejayaan Dinasti Safawi dicapai di bawah kepemimpinan Syah Abbas I yang berhasil memodernisasi militer, memperluas wilayah, serta memindahkan ibu kota ke Isfahan yang kemudian menjadi pusat seni dan budaya dunia. Periode ini menandai kebangkitan seni, arsitektur, dan filsafat di Persia. 

  • Era Modern (Qajar & Pahlavi): 
Era modern Iran secara fundamental dibentuk oleh transisi dari Dinasti Qajar yang tradisional ke Dinasti Pahlavi yang melakukan modernisasi radikal. Kedua dinasti ini mewakili upaya Iran untuk tetap relevan di tengah tekanan kekuatan global. Dinasti Qajar didirikan oleh Agha Mohammad Khan Qajar yang berkuasa selama 136 tahun (1789-1925 M), sementara Dinasti Pahlavi berdiri setelah Reza Shah Pahlavi berhasil menggulingkan Dinasti Qajar. Pada tanggal 21 Maret 1935, Reza Shah Pahlavi secara resmi meminta komunitas internasional mengganti nama "Persia" menjadi "Iran" (berasal dari bahasa Persia kuno Aryanam) yang berarti "Tanah Bangsa Arya".

  • Revolusi Islam: 
Semenjak datangnya Islam ke Iran, bangsa ini mengalami kemajuan pesat, mulai dari seni, arsitektur, filsafat, dan ilmu pengetahuan lainnya. Hal ini membuat Islam begitu melekat di hati masyarakat Iran, terutama paham Syiah Imamiyah (atau dikenal dengan Syiah Itsna Asyariyah). Rezim Pahlavi yang dinilai kebarat-baratan serta kebijakannya yang kontroversi sangat kontras dengan ideologi Islam, sehingga memicu revolusi Islam besar-besaran pada tahun 1979 M. Revolusi yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini menggulingkan monarki Pahlavi dan mengubah Iran menjadi republik Islam hingga saat ini. 

Perjalanan panjang yang berkelanjutan hingga saat ini, membuktikan power bangsa Iran di kancah internasional. Mulai dari Kekaisaran Persia, Dinasti Safawiyah, hingga Revolusi Islam Iran. Mulai dari paham Zoroastrianisme, Islam Sunni, hingga Islam Syiah. Mereka hanya mengubah identitas dan aliran, bukan karakteristik dan mental heroiknya. Perang antara Amerika-Iran saat ini adalah bukti nyata ketangguhan bangsa Iran. 

Daftar Pustaka:

• Amin, S. M. (2015). Sejarah Peradaban Islam (Cet. 5). Jakarta: Amzah.

• "History of Iran." Encyclopaedia Britannica, Encyclopaedia Britannica, Inc., 2 Maret 2026, www.britannica.com. Diakses 3 Maret 2026.

• "History of Iran." Wikipedia: The Free Encyclopedia, Wikimedia Foundation, 2 Mar. 2026, en.wikipedia.org/wiki/History_of_Iran. Accessed 3 Mar. 2026.