Selasa, 30 Desember 2025

Soekar-Mala[isme]

Soekar-Mala[isme] merupakan akronim yang saya buat dari gabungan dua nama dengan imbuhan isme. Atau juga disebut "jembatan keledai" oleh Tan Malaka, seperti MADILOG (MAterialisme, DIalektika, LOGika). Jembatan keledai Tan Malaka merujuk pada metode Tan yang terinspirasi dari ulama sekaliber Imam Ghazali, dan ini sangat efisien untuk mengingat informasi panjang dengan akronim atau kata kunci. 

Soekar-Mala[isme] gabungan dari Soekarno dan Tan Malaka yang diberi imbuhan isme, tapi ini bukan soal ideologi politik, bukan pula soal agama, apalagi keyakinan. Ini tentang dua sosok revolusioner yang seringkali dijadikan sebagai ajang adu domba. 

Kita tahu bahwa Soekarno dan Tan Malaka memiliki ide, gagasan, dan metode yang berlainan dalam mengusung kemerdekaan Indonesia. Namun, keduanya punya tujuan yang sama; ingin melepas Indonesia dari belenggu kolonialisme. Untuk mempertahankan kemerdekaan, Soekarno memilih jalur negosiasi dengan kolonialisme, sementara Tan Malaka menolak diplomasi dan ingin menghapus hubungan dengan kolonialisme secara total. Soekarno mengusung Demokrasi Pancasila yang moderat sebagai ideologi politik, sedangkan Tan Malaka ingin mengusung sosialisme yang dikenal radikal. 

Pada akhirnya, konflik antara Soekarno dan Tan Malaka berujung dengan terbunuhnya Tan Malaka oleh pasukan TNI di bawah komando Kolonel Sabarudin di Kediri pada Februari 1949. Seorang pejuang kemerdekaan dibunuh oleh negerinya sendiri. Sebuah ironi besar dalam sejarah Indonesia. 

Tulisan ini tidak untuk menghakimi kedua tokoh besar di atas, apalagi memvonis mana yang salah dan yang benar. Mereka berdua sama-sama memiliki jasa yang amat besar untuk meraih kemerdekaan negeri ini. Tanpa mereka, mungkin sampai saat ini kita masih berada di bawah kekangan kolonialis dan imperialis. Yang lalu biarlah berlalu. Bukan bersikap anti kritis atau acuh tak acuh, tapi realita saat ini mereka mendewa-dewakan yang satu, antipati pada yang lain. 

Yang pro Tan Malaka kontra Soekarno begitu juga sebaliknya. Maka muncullah kelompok Soekarnoisme dan Tan Malakaisme. Pro Tan Malaka menganggap Soekarno menganut paham feodalisme, dan pro Soekarno menilai Tan Malaka berpaham radikalisme. Kedua kelompok ini hanya memandang sebelah mata, padahal realitanya mereka fanatik buta.

Belajarlah moderat! 
Bukan saya sok cerdas, apalagi sok bijak. Saya tidak melarang kalian mengkritik gagasan mereka berdua, itu hak kalian. Interpretasi dan opini itu ada dikendali kalian. Tapi ingat, peran dan jasa mereka terlalu besar untuk kita bersikap fanatik kepada salah satunya lalu antipati kepada yang lain. Bapak proklamator Soekarno dan tokoh gerilya Tan Malaka bukan seorang nabi yang ma'shum (terhindar dari kesalahan), mereka berdua juga manusia yang bisa salah. 

Dari pada kita meributkan hal-hal yang kurang produktif, menyalahkan satu sama lain, lebih baik kita fokus menajamkan pandangan kita pada revolusi dan inovasi-inovasi baru yang bisa membawa bangsa ini maju. 

Kamis, 25 Desember 2025

Antara Materialisme dan Mistisisme!

Materialisme dan mistisisme merupakan dua konsep yang seringkali dibentur-benturkan dan dianggap kontradiksi. Padahal dua paham ini memiliki relnya masing-masing atau bahkan bisa berjalan di rel yang sama. Sebelum saya paparkan secara detail, saya akan deskripsikan esensial kedua konsep ini. 

Secara ontologis, materialisme adalah sebuah pandangan bahwa hanya materi (fisik) yang benar-benar ada. Selain itu, roh, alam gaib, malaikat, dan segala yang berbau mistis (non-material) dianggap tidak ada. Sesuai dengan asal materialisme itu sendiri yang diambil dari kata Latin "materia" atau dalam bahasa Inggris "matter" yang artinya benda atau zat, pandangan ini menekankan bahwa realitas pada dasarnya terdiri dari materi sehingga dapat dibuktikan eksistensinya dengan hukum-hukum fisika. 

Kalau kita teliti lebih dalam, setiap orang yang menganut paham materialisme cendrung menjadi ateisme (anti agama) dan menolak segala hal yang tidak bisa dijelaskan oleh sains. Seperti Karl Marx (pelopor paham komunis), Richard Dawkins, dan Feuerbach (seorang filsuf Jerman). Tapi tidak semua penganut materialisme adalah ateis begitu juga sebaliknya. Contohnya Tan Malaka, tokoh komunis Indonesia yang pemikirannya dipengaruhi oleh Karl Marx dan sahabatnya Friedrich Engels. 

Tan Malaka adalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki ide dan gagasan yang kompleks. Dalam buku briliannya yang berjudul MADILOG, beliau menjelaskan secara detail dan spesifik pengertian materialisme, serta penolakannya pada kaum yang berpaham mistisisme atau yang beliau sebut dengan logika mistika. Dalam buku itu pula beliau secara terang-terangan mengkritik logika mistika yang dianggap irasional dan menghambat kemajuan. 

Sekarang kita tahan sejenak materialisme, dan beralih ke pembahasan kedua yaitu mistisisme. Mistisisme itu lebih fokus pada pengalaman spritual, pengabdian kepada Tuhan, dan hubungan dengan dimensi tersembunyi yang melampaui rasio atau sains. Paham mistisisme tidak akan lepas dari religion (agama), apapun agamanya. Islam sendiri mengajarkan kita agar beriman pada hal-hal gaib, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran:

Ψ°ٰΩ„ِΩƒَ Ψ§Ω„ْΩƒِΨͺٰΨ¨ُ Ω„َΨ§ Ψ±َيْΨ¨َۛ فِيْΩ‡ِۛ Ω‡ُΨ―ًΩ‰ Ω„ِّΩ„ْΩ…ُΨͺَّΩ‚ِيْΩ†َۙ • Ψ§Ω„َّΨ°ِيْΩ†َ يُΨ€ْΩ…ِΩ†ُوْΩ†َ Ψ¨ِΨ§Ω„ْΨΊَيْΨ¨ِ وَيُΩ‚ِيْΩ…ُوْΩ†َ Ψ§Ω„Ψ΅َّΩ„ٰوةَ وَΩ…ِΩ…َّΨ§ Ψ±َΨ²َΩ‚ْΩ†ٰΩ‡ُΩ…ْ يُΩ†ْفِΩ‚ُوْΩ†َۙ •

"Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. Al-Baqarah: 2-3)

وَΩ‚َΨ―ْ ΩƒَفَΨ±ُوْΨ§ Ψ¨ِΩ‡ٖ Ω…ِΩ†ْ Ω‚َΨ¨ْΩ„ُۚ وَيَΩ‚ْΨ°ِفُوْΩ†َ Ψ¨ِΨ§Ω„ْΨΊَيْΨ¨ِ Ω…ِΩ†ْ Ω…َّΩƒَΨ§Ω†ٍۢ Ψ¨َΨΉِيْΨ―ٍۚ • 

"Sungguh, mereka telah kufur terhadap kebenaran sebelum itu (ketika di dunia) dan melontarkan (keraguan) tentang yang gaib dari tempat yang jauh." (QS. Saba': 53)

Dalam Perjanjian Baru juga secara jelas menekankan pentingnya beriman pada hal gaib. 

"Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:29) 

"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak terlihat." (Ibrani 11:1) 

Dan banyak lagi dalil-dalil dari berbagai macam kepercayaan yang secara eksplisit mengharuskan penganutnya mengimani hal-hal gaib yang non-material. 

Lalu bagaimana cara memadukan kedua paham ini? 

Oke markibas, mari kita bahas. 

Di atas telah saya singgung bahwa materialisme sering dianggap bertolak belakang dengan mistisisme. Penganut materialisme cendrung (tidak keseluruhan) ateis, mistisisme condong agamis. Materialisme berfokus pada fisik atau materi yang dapat dibuktikan dengan rasio, mistisisme berkonsentrasi pada spiritualitas dan dimensi yang tidak bisa diraba oleh rasio. Sekilas memang kontradiksi! 

Pada dasarnya kedua paham ini tidak bertentangan, keduanya memiliki jalannya masing-masing, dan pada saatnya keduanya akan berdampingan. Kita tidak bisa memandang bahwa hanya materi yang dianggap benar-benar ada, tapi kita juga tidak boleh berlebihan mengaitkan segala peristiwa ada campur tangan makhluk halus dari dimensi lain. Semua ada porsinya. Tsunami bukan ulah Nyi Roro Kidul, letusan Gunung Merapi tidak disebabkan kemarahan Mbah Petruk (sosok makhluk halus yang disebut-sebut sebagai penunggu gunung), dsb. Tsunami utamanya disebabkan gempa bumi di dasar laut atau yang kita kenal tektonik, sementara gunung meletus disebabkan penumpukan tekanan magma panas bercampur gas di bawah kerak bumi. 

Namun, menafikan mistik dan metafisik secara totalitas merupakan reduksi terhadap makna hidup itu sendiri, karena hakekat manusia bukan hanya tentang meteri atau fisik, tapi juga ruh dan kalbu (hati). Maka dari itu, mengenyampingkan mistik dari material terasa jumud dan kering dari spiritualitas. Dari sini, peran mistisisme berkonsentrasi pada introspeksi dan pendekatan diri kepada Dzat Yang Maha Pencipta, karena alam ini tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan diciptakan oleh Sang Pencipta. Begitu juga semua peristiwa di dunia ini, diatur oleh Sang Pengatur.