Jumat, 05 Juli 2024

Restu Adira, Sosok yang Selalu Ceria dan Murah Senyum

              Restu Adira atau yang akrab dipanggil Restu merupakan santri asal Semarang, Jateng, yang menempuh pendidikannya di Pulau Garam, Madura. Lebih tepatnya di Sampang, Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. Pada saat ini, ia duduk di bangku kelas 3 Tsanawiyah (formal) dan kelas 3 Ibtidaiyah. 

              Aktivitasnya saat ini yang sedang ia dalami adalah metode al-Miftah lil Ulum Sidogiri, yaitu metode cepat baca kitab. Meskipun ia masih pemula dan belum pernah mencicpi ilmu gramatika Arab, namun kegigihan dan semangatnya hampir tidak ada yang bisa menandinginya. Dalam keseharinnya, Restu tidak pernah lepas dengan kitab al-Miftah. Bahkan sebelum tidur, ia masih sempat untuk membawanya, meskipun tidak sempat dibaca. 

              Di kalangan teman-temannya, Restu dikenal sebagai anak yang selalu ceria dan murah senyum. Namun, dibalik senyum manisnya, ia memiliki hati yang lemah lembut dan mudah rapuh. Ia sering kali terlihat meneteskan air matanya saat disakiti oleh teman-temannya. Hebatnya, anak kelahiran Semarang ini juga sering kali tak bisa membendung air matanya ketika ia sulit untuk menghafal pelajarannya. Sehingga tidak sedikit dari teman kelasnya yang mencemooh. 

               Menurut penuturannya, yang membuat ia tetap semangat sampai saat ini, karena sosok ayahnya yang hebat, yang ingin memiliki anak berprestasi dan bisa baca kitab. Selain itu, ia juga merasa iri melihat teman-temannya yang lancar baca kitab dengan mudah dan cepat. 

              "Semangatlah dalam mencari ilmu, jika kalian ingin bahagia di dunia maupun akhirat. Dan rajinlah belajar dan jangan pantang menyerah, karena tidak ada pahlawan yang muncul dari orang-orang yang selalu dalam zona nyaman." Begitulah pesan-pesannya untuk para santri, diakhir wawancara kami dengannya. 

               Semoga kita semua, khususnya santri Pondok Pesantren Darul Mukhlisin ini bisa meneladani jejak langkahnya dalam mencari ilmu. 

Kamis, 30 Mei 2024

Pola Berpikir yang Benar

               Dalam roda kehidupan, seseorang tidak akan luput dari sebuah masalah atau problematika yang menimpanya. Baik urusan keluarga, lingkungan, maupun diri sendiri. Namun, yang urgen untuk direnungi adalah bagaimana cara menyikapinya. 

               Tentunya, setiap individu mempunyai caranya masing-masing dalam mengatasi persoalan hidupnya. Tetapi, respon yang salah akan memberikan dampak negatif baginya. Oleh karenanya, perlu bagi kita untuk memikirkannya sampai matang sebelum bertindak lebih jauh. Lebih-lebih kalau hal itu bersangkutan dengan sesuatu yang menentukan kehidupan kita. 

               Kunci utama dalam menempuh hiruk-pikuk kehidupan adalah mindset atau pola pikir yang benar. Tanpa kita sadari, dengan positive thinking kita telah memutus akar dan pangkal dari sebuah masalah. Sebab, mindset yang benar secara tidak langsung telah menghapus beban yang ada di pikiran kita. 

               Apakah kalian tahu, apa bedanya dokter yang profesional dengan yang bukan? Dokter yang profesional tidak akan pernah memberi tahu kepada pasiennya perihal penyakit yang dideritanya. Sedangkan dokter yang tidak profesional tidak segan-segan memberi tahu penyakit yang diderita pasiennya, tanpa peduli konsekuensinya. Bahkan, tidak jarang kita temui dokter yang malah menakut-nakuti pasiennya dengan bahayanya penyakit yang dialami. 

               Kalian bisa bayangkan, kalau ada pasien yang terkena penyakit jantung diberi tahu kalau ia menderita penyakit jantung dan hidupnya tidak akan lama lagi. Munkin, tidak berselang lama kita akan mendengarkan berita kematiannya. 

               Maksud dari perumpamaan ini apa? Pola pikir yang baik dan buruk memiliki perbedaan yang signifikan dalam memberi pengaruh dalam kelangsungan hidup seseorang. Sebesar apapun masalah yang dialami akan terasa ringan jika dihadapi dengan lapang dada dan pola pikir yang benar. Sebaliknya, masalah yang kecil akan tampak besar ketika disertai dengan mindset negatif. 

Senin, 27 Mei 2024

Penghulu Hijaz dari Indonesia

              Nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali bin Jamad bin Janta bin Masbuqil al-Jawi al-Bantani at-Tanari. Namun, beliau lebih akrab dikenal dengan panggilan Syekh Nawawi al-Bantani. Syekh Nawawi dilahirkan pada tahun 1230 H/1813 M dan wafat di Mekkah pada 1314 H/1897 M. Dalam muqoddimah salah satu kitab fenomenalnya yang bertajuk Nihayatuz Zain disebutkan, bahwa beliau merupakan orang asli Indonesia. Lebih tepatnya di Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten. 

               Syekh Nawawi adalah putra sulung dari pasangan Kyai Umar dan Nyai Zubaidah. Ia mempunyai empat adik laki-laki dan tiga adik dua adik perempuan, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah, dan Sariyah. Dari jalur ayahnya, Syekh Nawawi tercatat masih keturunan ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati Cirebon. 

                Awal mulai menimba ilmu, Syekh Nawawi bersama adik-adiknya langsung diajari oleh ayahnya mendalami ilmu-ilmu dasar, seperti fikih, tauhi, tafsir, dab. Pada usia delapan tahun, ia bersama adiknya, Tamim dan Ahmad mulai berguru kepada KH Sahal, salah satu ulama terkemuka di Banten. Kemudian melanjutkan studinya kepada Raden H. Yusuf di Purwakarta. 

               Pada usianya yang ke 15 tahun, Syekh Nawawi berangkat ke Makkah untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima, menunaikan ibadah haji. Karena kegigihan dan kehausannya dalam mencari ilmu, Syekh Nawawi kecil akhirnya memutuskan untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya kepada ulama-ulama Makkah dan bermukim di sana. 

               Bertahun-tahun menimba ilmu di Makkah, kealiman Syekh Nawawi mulai tampak dan diakui oleh tokoh-tokoh terkemuka, sampai akhirnya ia diangkat menjadi salah satu pengajar tetap di Makkah. Bahkan, karena kejeniusannya dan produktif dalam mengarang karya-karya ilmiah, ia dapat mencapai posisi intelektual terkemuka di Timur Tengah dan mendapatkan gelar Sayyidul Hijaz (penghulu tanah Hijaz). 

              Menurut sebagian informasi, karya-karya Syekh Nawawi tidak kurang dari 99, baik yang berupa buku maupun risalah. Bahkan ada yang mengatakan karangan beliau lebih dari 115 buah. Kitab-kitab tersebut banyak tersebar di penjuru dunia, terutama di Indonesia. Tidak jarang kitab-kitab Syekh Nawawi menjadi rujukan dalam berbagai problematika kekinian. Oleh karena itu, nama Syekh Nawawi dijuluki sebagai bapak Kitab kuning Indonesia.