"Agama adalah desahan makhluk yang tertindas, hati dari dunia yang tak berbelas kasihan, dan jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Ia adalah opium bagi rakyat." Kutipan pernyataan Karl Marx dalam jurnal A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right.
Marx memandang agama sebagai opium of the people (candu rakyat; parafrase dari pernyataan Marx). Ibaratnya obat penenang, agama seperti opium yang meredakan rasa sakit sementara, bukan mengatasi penyebabnya. Bagi Marx, agama hanya sebuah ilusi dan harapan palsu untuk kaum proletar (buruh) atas ketidakadilan yang dilakukan oleh kaum borjuis (tuan tanah) dalam sistem kapitalisme.
Apakah benar agama hanya sekedar opium!?
Pertama, Marx mencoba untuk menggiring opini publik agar mereka sadar bahwa agama bukan solusi dalam memecahkan masalah, apalagi mencabut akarnya. Doktrin-doktrin agama; iming-iming masuk surga, mendapatkan kebahagiaan yang kekal, dsb, ia anggap sebagai pelarian sementara dari ketidakadilan, dan pada akhirnya mereka tetap terintimidasi.
Benarkah demikian? Tentu tidak! Tidak perlu heran kalau Marx berideologi sekularisme, itu selaras dengan pahamnya; ateisme. Kita tau bahwa orang yang agamis tidak hanya dari rakyat proletar, kaum borjuis pun bisa agamis, dan agama tidak pernah pilah-pilih siapa yang akan menjadi penganutnya. Maka, asumsinya bahwa agama dijadikan sebagai sarana penindasan rakyat jelata oleh kaum bangsawan tidak bisa dibenarkan.
Kedua, agama sekedar opium/candu rakyat. Di sini Marx memandang agama sebelah mata, seolah agama hanyalah ilusi belaka atau hanyalah upah hati bagi penganutnya. Padahal tidak sesempit itu. Agama bukan hanya sekedar ritual apalagi opium, melainkan sebuah hubungan antara makhluk dan penciptanya, hidup selaras dengan keyakinan, tuntunan moral dan etika, serta menjadi tujuan dalam kehidupan manusia. Namun, Karl Marx dan pengikutnya; marxisme tentu akan menolak mentah-mentah argumen semacam ini, sampai kapanpun seorang ateis dan kaum materialis tidak akan percaya pada keberadaan Tuhan dan hal-hal yang non-materi.
Baca juga perbandingan perspektif Algazel dan Karl melalui link ini: Sekularisme: antara Algazel dan Karl Marx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar