Mungkin sudah lumrah kita dengar para penceramah atau dai yang berstatmen bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Padahal itu kesalahan besar, apalagi dengan mendistorsi Surah adz-Dzariyat atat 56 yang berbunyi:
َูู
َุง ุฎََْููุชُ ุงْูุฌَِّู َูุงْูุงِْูุณَ ุงَِّูุง َِููุนْุจُุฏُْูู
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
Kalau kita terjemahkan secara tekstual seperti di atas, sepintas pernyataan itu bisa dibenarkan, sesuai dengan kaedah nahwu, setiap nafi (ingkar) yang diiringi ististna' (pengecualian) sama dengan istbat (penetapan). Kemudian lumrahnya faedah huruf "lam" yang terletak pada lafadz "liya'budun" dimaknai sebagai ta'lil (alasan). Maka mafhumnya; Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Ku. Namun, mafhum ini jelas keliru dan menyimpang dari makna aslinya. Buktinya banyak orang yang tidak beribadah atau bahkan bermaksiat kepada-Nya, dan hal itu tidak merusak citranya sebagai Tuhan Sang Pencipta.
Lalu bagaimana tafsiran yang benar?
Sebenarnya, kesalahan vital dalam menafsiri ayat di atas terletak pada faedah huruf "lam". Dalam Tafsir Showi disebutkan bahwa lam pada lafadz "liya'budun" bermakna ghoyah (puncak) atau akibat bukan ta'lil. Dengan begitu, maka tafsiran yang tepat adalah "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali puncak/akibatnya mereka beribadah kepada-Ku." Ibadah itu sebuah keharusan bagi jin dan manusia bukan alasan atau tujuan Allah menciptakan mereka!
Sebagai argumen pendukung saya akan ajak Imam as-Sanusi ikut membantah kekeliruan pandangan di muka. Menurut as-Sanusi dalam Ummul Barahin, tujuan adalah penggerak untuk mewujudkan sebuah tindakan atau menghukuminya. Dan hal itu mustahil bagi Allah. Sebab, jika Allah memiliki tujuan seperti dalam pemikiran aliran Mu'tazilah, maka ada dua kemungkinan yang menjadi objek sararannya; maslahat yang kembali pada dzat-Nya atau makhluk-Nya.
Pertama, Allah itu tidak butuh pada apapun. Jika Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, maka itu sangat kontras dengan sifat wajib-Nya; qiyamuhu binafsihi. Sementara konsepsi kedua mengacu pada teori teologis Mu'tazilah; mura'ah ash-shalah wa al al-ashlah, bahwa Allah wajib memberikan hal baik (shalah) dan lebih baik (ashlah) kepada hamba-Nya.
Maka dari itu, stop menormalisasikan kekeliruan tafsir Surah adz-Dzaiyat atat 56! Agar tidak termasuk golongan:
ู
َْู َูุงَู ِูู ุงُْููุฑْุขِู ุจِุฑَุฃِِْูู ََْูููุชَุจََّูุฃْ ู
َْูุนَุฏَُู ู
ِْู ุงَّููุงุฑِ
"Barangsiapa berkata (menafsirkan) tentang al-Quran sesuai dengan pendapatnya sendiri (tanpa ilmu), maka bersiaplah untuk menempati neraka." (HR. At-Tirmidzi: 2875)
Sekali lagi, ibadah itu sebuah keharusan bagi jin dan manusia bukan alasan atau tujuan Allah menciptakan mereka!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar