Akhir-akhir ini banyak narasi bermunculan terkait kemunduran Islam dengan melancarkan tuduhan kepada Imam Ghazali sebagai faktor utamanya. Yang dijadikan dalil atas tuduhan mereka adalah buah pemikiran Imam Ghazali yang tertuang dalam kitab Tahafut al-Falasifah (kerancuan para filsuf) yang mengkritik habis-habisan para filsuf seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan para pemikir rasionalis Muslim lainnya. Narasi itu juga diperkuat dengan kritikan Imam Ghazali melalui kitab masterpiecenya yang bertajuk Ihya' Ulumiddin (menghidupkan kembali panji-panji agama) yang berisi ajakan untuk kembali ke fitrah (ajaran Islam yang murni sesuai petunjuk Nabi, Shahabat, dan para ulama salaf). Dalam kitab itu pula Imam Ghazali secara tegas mengklaim mayoritas cendekiawan Muslim pada masa itu sebagai ulama dunia dan telah menyimpang dari manhaj salaf, karena mereka telah mengesampingkan ilmu yang paling krusial, yaitu ilmu sufisme (tasawuf).
Benarkah narasi tersebut? Apakah Imam Ghazali antifilsafat? Apakah Imam Ghazali kaum mistisisme yang menolak materialisme dan rasionalisme?
Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kamu harus tau ini!
Tahafut al-Falasifah merupakan kumpulan kritik Imam Ghazali yang ditujukan secara spesifik untuk para cendikiawan Muslim yang menyelami paham filsafat. Di dalamnya berisi 20 komentar, sekali lagi HANYA 20 KOMENTAR, yang mengkritiki 20 paham-paham filsafat menyimpang; 17 tentang ketuhanan dan 4 terkait thabi'iyat (ilmu yang mempelajari fenomena alam dan sifat-sifat materi).
Ihya' Ulumiddin membagi ilmu filsafat menjadi empat kategori:
- Ilmu Geometri dan Aritmatika: Disiplin ilmu matematika atau cabang ilmu pasti yang fokus mempelajari bentuk, angka, kalkulasi, ukuran, dan sifat ruang.
- Ilmu Logika (Mantiq): Disiplin ilmu yang mempelajari kaidah dan aturan berpikir agar akal mampu bernalar dengan benar, serta terhindar dari kekeliruan (fallacy).
- Ilmu Ketuhanan: Membahas tentang Dzat Tuhan dan sifat-sifat-Nya serta membahas cabang ilmu kalam (retorika).
- Ilmu Tabiat: Ilmu yang mempelajari benda-benda fisik, fenomena alam, dan sifat-sifat materi.
Dari keempat cabang ilmu filsafat di atas, Imam Ghazali HANYA MELARANG SEBAGIAN dari disiplin ilmu yang ketiga dan keempat. Bahkan secara umum Imam Ghazali termasuk salah satu ulama yang menganjurkan untuk mempelajari ilmu filsafat! Propaganda Imam Ghazali antifilsafat sangatlah tidak berdasar, sebab ia sendiri adalah filsuf.
Imam Ghazali tidak antimaterialisme apalagi antirasionalisme. Al-Ghazali bukan antimaterialisme, ia hanya membatasi jangkauannya. Tidak semua yang ada di semesta ini berbentuk materi dan bisa dipancaindrakan. Islam memisah konsep materialisme yang fokus pada hal-hal keduniawian dan mistisisme sebagai dasar keimanan. Islam menolak materialisme ekstrim yang melupakan atau bahkan meniadakan Tuhan, tapi juga mengarahkan mistisisme agar tetap berada di rel Al-Quran dan Sunnah. Jika dikatakan Al-Ghazali antirasionalisme, maka itu salah besar. Semua kritikan dan komentar Imam Ghazali baik dalam Tahafut ataupun Ihya' berdasarkan dalil rasional, namun Al-Ghazali memiliki prinsip, bahwa otoritas wahyu tidak bisa ditaklukkan oleh rasio.
Al-Ghazali memandang ilmu dunia (seperti filsafat, sains, fikih khilafiyah, kalam/retorika, dll) layaknya tubuh, sementara ilmu akhirat (sufisme) sebagai ruhnya. Islam pada saat itu memang sedang berada di puncak keemasannya, segala bidang ilmu berkembang pesat, peradaban Islam menjadi sorotan dunia. Tapi Imam Ghazali melihat Islam telah kehilangan ruhnya; para penguasa saling berebut kekuasaan, perselisihan para cendekiawan tidak berujung pangkal, para hakim menggunakan segala macam cara untuk menghalalkan perkara yang diharamkan oleh syariat.
Imam Ghazalilah yang memperingatkan akan hal itu sebelum datang masa kemunduran, berjuang mati-matian untuk menghidupkan kembali ruh ajaran Islam, tapi mereka acuh tak acuh dengan peringatan itu, bahkan ada rencana pembakaran massal kitab Ihya' Ulumiddin. Sampai akhirnya terjadi disintegrasi besar-besaran, kekuasaan Baghdad melemah, hingga akhirnya dibumihanguskan oleh tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan, menghancurkan pusat-pusat peradaban, memusnahkan perpustakaan legendaris Baitul Hikmah, dan khalifah terakhir, al-Musta'sim, dieksekusi, sekaligus mengakhiri kekuasaan Abbasiyah. Disitulah awal kemunduran peradaban Islam!
Tidak hanya sampai di situ, para cendikiawan Muslim mulai kehilangan arah tujuan, mereka sibuk bertikai, berdebat satu sama lain, sampai saling mengkafirkan dan menyesatkan. Imam Ghazali tidak melarang filsafat, sains, retorika, dan semua ilmu pengetahuan, dia hanya melarang jika mereka menyelami itu semua tapi mencampakkan ilmu yang menjadi ruh agama Islam, ilmu akhirat, sufisme (tasawuf). Ketika filsafat dijadikan ajang unjuk gigi, retorika menjadi sarana untuk menjatuhkan lawannya, fikih dijadikan alat menghelah perkara haram. Maka sejak itu pula ilmu pengetahuan berada diambang kehancurannya.
Al-Ghazali bukan penyebab kemunduran Islam, tapi kemunduran terjadi sebab kita yang mengabaikan peringatannya! Al-Ghazali tidak antifilsafat, ia seorang filsuf! Al-Ghazali tidak antiretorika, ia seorang teolog! Al-Ghazali tidak menolak sains, ia seorang saintis!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar