Kalian harus baca ini, agar tidak salah paham!
Nia Hajar, atau yang disebut-sebut sebagai ustadzah AI. Akhir-akhir ini videonya sering berseliweran di berbagai platform media sosial khususnya tiktok, dan saat ini followernya telah mencapai satu juta lebih. Namun, dari banyaknya video yang beredar, postingannya banyak mendapatkan kecaman dari beberapa tokoh publik dan para ustadz/dai yang aktif dalam bersosial media, bahkan tak sedikit orang yang menghujatnya.
Dari beberapa postingannya, yang disorot ketika ia menyampaikan suatu ayat yang terpotong-potong dan cara menerjemahkannya yang banyak keliru. Kadang ia juga menyampaikan hukum, kisah-kisah inspiratif, dan kata-kata yang mengandung motivasi.
Entah apa yang membuat pengikutnya begitu banyak, apa karena parasnya yang cantik jelita, lesung pipinya, atau memang karena penyampaiannya yang mudah dicerna oleh kalangan awam.
Tetapi, ternyata apa yang ia sampaikan ada benarnya juga, dan tidak semuanya salah!
Apakah layak ucapan ustadzah AI ini untuk diikuti?
Dalam hal ini kita harus mengambil langkah yang bijak, sebijak-bijaknya. Sebagaimana kecerdasan buatan yang lain, AI (Artificial Intelligence) semacam ini juga tidak bisa luput dari salah, kita harus selektif dalam memilih, mana yang bisa diikuti dan tidak.
Dalam mengambil hukum dan semua yang berkaitan dengan usuluddin (pokok-pokok agama) harus berdasarkan data yang jelas dan disampaikan oleh orang-orang yang kapasitas ilmunya tidak diragukan atau kredible. Hanya berbekal hafalan yang kuat dan bisa menampilkan referensi lengkap seperti halnya AI tidak bisa dibuat acuan dalam pijakan hukum. Begitu juga Al-Quran dan Hadist, tidak sembarangan orang bisa memahami dan mencernanya mentah-mentah, tanpa landasan ilmu alat yang matang hanya akan menjerumuskannya ke jurang kesesatan. Itu sebabnya Rasulullah mewanti-wanti agar tidak menafsirkan Al-Quran sesuka hatinya:
Ω
َΩْ ΩَΨ§Ωَ ΩِΩ Ψ§ΩْΩُΨ±ْΨ’Ωِ Ψ¨ِΨ±َΨ£ْΩِΩِ ΩَΩْΩَΨͺَΨ¨َΩَّΨ£ْ Ω
َΩْΨΉَΨ―َΩُ Ω
ِΩْ Ψ§ΩΩَّΨ§Ψ±ِ
"Barangsiapa berkata (menafsirkan) tentang al-Quran sesuai dengan pendapatnya sendiri (tanpa ilmu), maka bersiaplah untuk menempati neraka." (HR. At-Tirmidzi: 2875)
Namun, jika yang ia sampaikan sebatas kisah-kisah inspiratif atau kata mutiara dan motivasi, maka tidak ada masalah dalam mengikutinya, itu semua tidak membutuhkan dalil dan tidak perlu meninjau dari mulut siapa ucapan itu keluar. Kendati demikan, tetap harus sesuai dengan koredor syariat; tidak mengandung hoax, manipulatif, provokatif, dan semacamnya.
Ingat, jangan mudah menghakimi orang lain apalagi melontarkan kata-kata kotor hanya karena ia keliru, komentar/kritik boleh tapi harus sesuai etika. Jangankan AI, kita pun tidak luput dari salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar