Setiap kali memasuki bulan maulid, Rabiul Awal, pertanyaan semacam ini mulai banyak bermunculan, entah itu di medsos ataupun secara langsung. Ada yang memang tidak tahu dalilnya, ada pula yang tujuannya ingkar dan berupaya memecah belah umat.
Pertanyaan serupa juga pernah dilontarkan kepada Sayyid Muhammad al-Maliki, salah satu ulama terkemuka di tanah haram. Dan jawabannya bikin semua orang diam membungkam pada saat itu. Ia tidak menjawab dengan dalil: hadis atau ayat Al-Qur'an. Jawabannya sangat pendek tapi memiliki makna yang luas, "Merayakan maulid tidak butuh dalil!" Jawaban yang singkat, padat.
Sekilas jawabannya terasa ambigu dan sangat musykil, tapi kalau kita rujuk ke kitab masterpiece-nya beliau yang berjudul Mafahim Yajibu an Tushahhaha (pemahaman-pemahaman yang harus diluruskan), maka kita akan paham maksud jawaban itu.
Merayakan maulid Nabi, begitu juga peringatan hari besar Islam (PHBI) lainnya, hanyalah sebuah tradisi/adat istiadat, bukanlah ibadah/pengabdian. Sama seperti kita merayakan HUT RI, hari lahirnya Pancasila, hari guru, dan lain sebagainya, itu semua tidak membutuhkan dalil dan bukan termasuk sebuah ritual. Selama semua itu tidak bertentangan dengan koredor syariat, maka tidak ada masalah.
Di Indonesia sendiri tradisi maulid dijalankan dengan penuh penghormatan, mengungkapkan rasa syukur dengan banyak bersedekah, membaca maulid yang berisi biografi dan perjalanan hidup Nabi Muhammad, dll. Semua itu adalah hal yang baik dan dianjurkan oleh syariat.
Jika ada kelompok yang masih mempermasalahkan perayaan maulid dengan dalih "semua bid'ah itu sesat", itu membuktikan bahwa mereka telah gagal memahami esensi dari peringatan maulid. Hadis ΩُΩُّ Ψ¨ِΨ―ْΨΉَΨ©ٍ ΨΆَΩَΨ§ΩَΨ©ٌ ΩَΩُΩُّ ΨΆَΩَΨ§ΩَΨ©ٌ ΩِΩ Ψ§ΩΩَّΨ§Ψ±ِ dan Ω
َΩْ Ψ£َΨْΨ―َΨ«َ ΩِΩ Ψ£َΩ
ْΨ±ِΩَΨ§ Ω
َΨ§ ΩَΩْΨ³َ ΩِΩΩِ ΩَΩُΩَ Ψ±َΨ―ٌّ sangat erat kaitannya dengan peribadatan. Mengada-ngada dalam hal itu dianggap bid'ah yang sesat apabila bertentangan dengan Nash maupun ijma'. Sementara perayaan maulid hanyalah tradisi sebagaimana kita juga merayakan hari ulang tahun kita.
Merayakan maulid tidak butuh dalil! Dalam kitabnya, Sayyid Muhammad al-Maliki menampilkan satu gubahan syi'ir:
ΩَΩَΩْΨ³َ ΩَΨ΅ِΨُّ ΩِΩ Ψ§ΩْΨ£َΨ°ْΩَΨ§Ωِ Ψ΄َΩْΨ‘ٌ • Ψ₯ِΨ°َΨ§ Ψ§ΨْΨͺَΨ§Ψ¬َ Ψ§ΩΩَّΩَΨ§Ψ±ُ Ψ₯ِΩَΩ Ψ―َΩِΩΩِ
"Tidak ada satu pun yang dianggap benar (masuk akal) di dalam pikiran, jika siang hari saja masih membutuhkan dalil (bukti)."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar